Di pelataran senja, lelaki itu menahanku-- Mengapa detik tak jua bergerak Sedang, sejengkal kemudian sang surya menemui ajalnya. --Begitu dekat, begitu lekat mata itu menuduh mataku Memori luka yang sengaja digelar, mengiba takdir baru Lagi, memori itu menyeretku ke jutaan milisekon yang lalu-- Saat mata masih malu bersahutan, saat langkah masih enggan memungut jarak --Jutaan milisekon setelahnya yang dikutuk dengan gendam Mengukungku, tetap tinggal sendiri Kini, saat bersitatap dengan wajah yang sama, kita pasi Lagi-lagi kata-kata menjadi tak terkatakan Udara menjelma asap yang menyesakkanku, mungkin juga lelaki itu Kita seperti berdiri di perahu rusak yang sama, yang akan menenggelamkan jika berlama merampungkan pertemuan ini Lelaki itu gemetar hebat menyodorkan selebaran, Bersusah-susah menahan bayangku pecah di matanya, seraya berkata ‘berbahagialah’ Lalu bergegas mengusaikan pertemuan Tak usah banyak kata yang terurai. Karena cukup, duka y...
Di ruang yang kecil ini, semoga kalian bisa menemukan ruang-ruang baru yang belum pernah kalian kunjungi sebelumnya...