Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Di Pelataran Senja

Di pelataran senja, lelaki itu menahanku-- Mengapa detik tak jua bergerak Sedang, sejengkal kemudian sang surya menemui ajalnya. --Begitu dekat, begitu lekat mata itu menuduh mataku Memori luka yang sengaja digelar, mengiba takdir baru Lagi, memori itu menyeretku ke jutaan milisekon yang lalu-- Saat mata masih malu bersahutan, saat langkah masih enggan memungut jarak --Jutaan milisekon setelahnya yang dikutuk dengan gendam Mengukungku, tetap tinggal sendiri Kini, saat bersitatap dengan wajah yang sama, kita pasi Lagi-lagi kata-kata menjadi tak terkatakan Udara menjelma asap yang menyesakkanku, mungkin juga lelaki itu Kita seperti berdiri di perahu rusak yang sama, yang akan menenggelamkan jika berlama merampungkan pertemuan ini Lelaki itu gemetar hebat menyodorkan selebaran, Bersusah-susah menahan bayangku pecah di matanya, seraya berkata ‘berbahagialah’ Lalu bergegas mengusaikan pertemuan Tak usah banyak kata yang terurai. Karena cukup, duka y...

Sajak Tentang Luka --Untuk lelaki berinisial A

Lukaku kau lukai lagi, Sayang? Kau tahu? Di detik ini rasaku masih seperti dulu Dan akan tetap begitu Takkan berubah-- Kau pejantan yang genap menangguhkan jiwaku padamu. Ketika aku mendamba namamu yang membara di sini, hatiku kembali memerah hampir pecah. Betapa kau memesona jiwa untuk alpa melihat seberapa lukanya lara yang dirasa Seperti bara yang kau tumpahkan di lukaku kemarin. Akankah kembali kau tuangkan nestapa dari tahun-tahun lalu? Dengan tega kau meretas selaksa nostalgia yang bersusah-susah kurenda di penghujung pertemuan kita Berdoalah aku takkan menamatkanmu dari garis hidupku Berkat namamu yang dibuat terus merangka di jiwaku, percayalah Penantianmu takkan berujung hampa Namun banyak kata yang tak terkatakan, melesap bersama dukaku Apa lagi yang akan kau lakukan? Semua tetap sama-- Karena hatiku akan terus berdukacita Menggenapi cerita kita yang basah 15 November 2015 19:36 WIB

Rindu Kesekian

Selepas hujan di suatu pagi Aku terbangun dengan suara gigil rindu yang bergetar di dada Bau hujan selalu menambatkanku pada kisah itu Tatkala mentari masih enggan menunjukkan kilaunya Berdebat tentang rembulan yang tak bergeser sesentipun dari tempatnya Fajar yang sembab, dapatkah ia berwarna seperti dahulu Selepas langit memuntahkan riciknya dan mengguyur bumi, seperti itulah seharusnya warna terlahir Tapi tidak denganmu, yang masih sibuk menghitung satu dua binar petir yang jatuh di mataku Berkilatan saling mengisyaratkan rindu yang mulai menggelepar hampir padam Denganmu aku memahami, Walau pelangi berwarna, di pucat matamu semua tak sama Namun rinduku masih terlalu pagi untuk disampaikan Kan kutunggu hingga mentari mengintip di angkasa Walau guruh di mega sana masih datang silih berganti Kisah selepas hujan kala itu masih mengudara Isyaratkan fajar dan hujan, berpihak pada kita

PERJAMUAN TERAKHIR

Bagaimana lagi harus kuterjemahkan rindu di matamu Segala kau isyaratkan hanya sekelebat angin yang melayang di udara Bagaimana kuharus menjabarkan cintamu Ketika malam-malam yang kau suguhkan hanya serupa perjamuan usang Akankah lagi kau menjilati sisa-sisa kopi di tengah perseteruan ini ? Tak bisakah kau bersikap waras dan mulai menatap Namun yang terlihat kau tengah asyik mencumbui meja perjamuan kita malam itu Matamu sibuk mematut sudut demi sudut meja usang itu Menyusuri   gelas-gelas kaca yang tergeletak , berdebu Yang disampingnya juga masih berserakan remah-remah sisa makanan kita Sambil menimang-nimang satu dua buah pencuci mulut yang hampir membusuk, dan dengan tega m encuaikanku Padahal kau tahu, apa yang kita makan malam ini tak lagi sama Apa yang kau coba isyaratkan, tentang segalanya Aku tak kuasa Aku tak bisa lagi mengeja aksara yang melekat di kedua tanganmu yang kini masih basah oleh hujan malam itu Bahkan tak lagi kutemukan...

Episode Rindu

Kukemas kepingan rinduku, kubingkai pita berdebu Lalu kualamatkan padamu, biar kau tahu Saat denting waktu melaju Bayangmu selalu berkelebat di pecahan mataku Di ujung pintu rumahmu, kunantikanmu Bersapa mesra, mendamba sua di balik pintu Tapi yang kutemui dirimu yang palsu Dirimu yang tak nampak walau seujung kuku Kembali kubacakan larik-larik lirik sederhana Seperti lagumu di pertemuan pertama Irama yang menuangkan nostalgia Meraja di depan mata Tentangmu melayang-layang, terbang Suaramu mulai melengang Di pekuburan ini kutuai segala kenang Bersamamu, di dekatmu aku tenang Tentang aku yang kini sibuk Menyatukan episode-episode rusak yang dipermainkan musim Menyusunnnya menjadi mimpi yang perlahan merangkak Menjemput ketiadaan di antara hati Dan kini aku tengah asyik menghitung abjad kematian di pekuburan Sedang rindu yang masih merajai, episodenya tak pernah mati 20 April 2016

Sepenggal Cerita Aneh

Selamat pagi! Aku ingin berbagi kisah aneh dengan kalian. Mungkin kalian yang akan berpikir bahwa aku yang aneh. Jadi begini, aku masih belum mengerti tentang dunia perbinatangan. Sampai saat ini aku penasaran dengan isi pikiran kucing. Pasti kalian heran alasan aku hanya memilih kucing padahal banyak binatang lain yang juga sulit untuk dipahami. Di rumahku ada banyak binatang peliharaan. Tidak jarang aku bercengrama dengan mereka. Ternyata jika kita mau mendengarkan, banyak hal yang ingin mereka bicarakan dengan kita. Aku sering mengobrol dengan kelinci, betengkar dengan ayam maupun bermain dengan kucing. Aku memahami betul apa yang kelinciku pikirkan. Kalian jangan berpikir macam-macam. Aku benar-benar bisa berbicara dengan kelinciku. Walaupun aku bukan nabi, pada kenyataannya mereka sangat memahami kalimatku. Tidak butuh waktu lama untuk bisa berbicara dengan mereka semua. Kecuali bayi. Bayi sulit untuk diajak bicara, mereka juga cendenrung pemalu dan penyendiri. Mereka juga...