Di pelataran senja, lelaki
itu menahanku--
Mengapa detik tak jua
bergerak
Sedang, sejengkal kemudian
sang surya menemui ajalnya.
--Begitu dekat, begitu lekat
mata itu menuduh mataku
Memori luka yang sengaja
digelar, mengiba takdir baru
Lagi, memori itu menyeretku
ke jutaan milisekon yang lalu--
Saat mata masih malu
bersahutan, saat langkah masih enggan memungut jarak
--Jutaan milisekon
setelahnya yang dikutuk dengan gendam
Mengukungku, tetap tinggal
sendiri
Kini, saat bersitatap dengan
wajah yang sama, kita pasi
Lagi-lagi kata-kata menjadi
tak terkatakan
Udara menjelma asap yang
menyesakkanku, mungkin juga lelaki itu
Kita seperti berdiri di
perahu rusak yang sama, yang akan menenggelamkan jika berlama merampungkan
pertemuan ini
Lelaki itu gemetar hebat
menyodorkan selebaran,
Bersusah-susah menahan
bayangku pecah di matanya, seraya berkata ‘berbahagialah’
Lalu bergegas mengusaikan
pertemuan
Tak usah banyak kata yang
terurai. Karena cukup, duka yang tersusun
Di diamnya pertemuan ini, dengannya, aku sama
Mengerti.
Selebaran itu, cokelat muda
‘Kepada : Cinta Pertamaku’
Itu yang tertulis di sampul undangan pernikahanmu
Lihatlah!
Di pelataran senja, cintaku
mati bersama sang mentari
Sementara hujan menyambut
kegelapan, hujan itu,
Hujan di hatiku
15 November 2015
20:50 WIB
Komentar
Posting Komentar