Bagaimana
lagi harus kuterjemahkan rindu di matamu
Segala kau
isyaratkan hanya sekelebat angin yang melayang di udara
Bagaimana
kuharus menjabarkan cintamu
Ketika
malam-malam yang kau suguhkan hanya serupa perjamuan usang
Akankah lagi
kau menjilati sisa-sisa kopi di tengah perseteruan ini?
Tak bisakah kau
bersikap waras dan mulai menatap
Namun yang
terlihat kau tengah asyik
mencumbui meja perjamuan kita malam itu
Matamu sibuk
mematut sudut demi sudut meja usang itu
Menyusuri gelas-gelas kaca yang tergeletak,
berdebu
Yang
disampingnya juga masih berserakan remah-remah sisa makanan kita
Sambil menimang-nimang satu dua buah pencuci mulut
yang hampir membusuk, dan dengan tega mencuaikanku
Padahal kau
tahu, apa yang kita makan malam ini tak lagi sama
Apa yang kau
coba isyaratkan, tentang segalanya
Aku tak kuasa
Aku tak bisa
lagi mengeja aksara yang melekat di kedua tanganmu yang kini masih basah oleh
hujan malam itu
Bahkan tak
lagi kutemukan dirimu di kedua mataku yang pecah
Perjamuan terakhir
yang kupersembahkan untukmu,
Kini hanya
menyisakan diriku dan dirimu yang termenung meratapi rembulan yang pucat
Di balik kaca
besar itu, Tuhan menyaksikan perseteruanku dengan
bayangmu
04 April 2016
01:28 WIB
Komentar
Posting Komentar