Selepas hujan di suatu pagi
Aku terbangun dengan suara gigil rindu yang bergetar di dada
Bau hujan selalu menambatkanku pada kisah itu
Tatkala mentari masih enggan menunjukkan kilaunya
Berdebat tentang rembulan yang tak bergeser sesentipun
dari tempatnya
Fajar
yang sembab, dapatkah ia berwarna seperti dahulu
Selepas
langit memuntahkan riciknya dan mengguyur bumi, seperti itulah seharusnya warna
terlahir
Tapi tidak denganmu, yang masih sibuk menghitung satu dua
binar petir yang jatuh di mataku
Berkilatan
saling mengisyaratkan rindu yang mulai menggelepar hampir padam
Denganmu
aku memahami,
Walau pelangi berwarna, di pucat matamu semua tak sama
Namun rinduku masih terlalu pagi untuk disampaikan
Kan kutunggu hingga mentari mengintip di angkasa
Walau guruh di mega sana masih datang silih berganti
Kisah selepas hujan kala itu masih mengudara
Isyaratkan fajar dan hujan, berpihak pada kita
Komentar
Posting Komentar